Langsung ke isi
Minggu, 8 November 2026 · Edisi NasionalRedaksi · Pedoman · Koreksi
BERITA. KONTEKS. PERSPEKTIF.
Kebijakan Publik

Krisis Air Batam di Tengah Ledakan Data Center, Siapa yang Harus Didahulukan?

Waduk Sei Ladi di Baloi, salah satu waduk penampung air baku di Batam
Foto: Sribasariannapohan / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Intinya dulu

Warga Kavling Sambau, Nongsa, Batam, sudah sekitar tiga bulan kesulitan air bersih, sementara investasi data center di pulau itu melampaui USD6,7 miliar. BP Batam membantah data center sebagai penyebab dan mewajibkan pengembang mengolah air laut sendiri, tetapi pertanyaan soal prioritas air tetap terbuka.

Ceritanya

BATAM – Keterbatasan pasokan air bersih bagi warga Batam kini bersinggungan dengan pesatnya industri data center. Puluhan ibu rumah tangga dari Kavling Sambau, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, berunjuk rasa di depan gerbang kawasan Nongsa Digital Park (NDP) pada Senin (5/10/2026) sekitar pukul 06.00. Mereka membawa galon kosong, gayung, dan perlengkapan rumah tangga. Menurut Mongabay Indonesia, kelangkaan air bersih di permukiman mereka sudah berlangsung sekitar tiga bulan.

Mongabay melaporkan warga terpaksa membeli air Rp125.000 untuk dua drum yang hanya cukup untuk sehari. Bantuan air lewat mobil tangki sempat datang, tetapi warga mengeluhkan airnya kotor. Tagihan air bulanan mereka disebut tetap sekitar Rp150.000 hingga Rp200.000 meski air jarang mengalir.

Krisis air dan data center Batam

Produksi Waduk Nongsa kini
25–30 liter/detik
Normalnya
80–90 liter/detik
Investasi data center
> USD6,7 miliar
Waduk andalan Batam
6 waduk tadah hujan
Sumber: Mongabay (ABH), Kompas.com (BP Batam), Medcom.id/BBC

Apa kata publik

BBC, seperti dikutip Medcom.id, menyebut sekitar 300 warga mendatangi kompleks pusat data di Nongsa Digital Park sambil membawa botol plastik kosong dan jeriken. Kompas.com melaporkan aksi itu sempat memblokade jalur masuk utama kawasan ekonomi khusus tersebut.

Video AJ+ yang dikirim ke redaksi mengangkat pertanyaan yang sama: apa yang terjadi ketika data center hadir di sebuah kota. Video itu menggambarkan warga yang kesulitan memasak dan mandi, menyebut pasokan air di wilayah itu memang sudah rapuh, dan memperlihatkan warga yang kini memprotes demi akses air bersih.

Bantahan BP Batam dan ABH

Badan Pengusahaan (BP) Batam membantah data center menjadi penyebab utama krisis. Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam Denny Tondano menyebut penyebabnya adalah kemarau yang diperparah El Nino. Menurut dia, dalam kondisi normal instalasi pengolahan air di Nongsa memproduksi sekitar 90 liter per detik, tetapi kini hanya sekitar 25 liter per detik, menurut Kompas.com.

“Kalau data center seperti yang kami sampaikan, contoh Equator belum beroperasi. Kalau kondisi yang ada di sini beroperasi pun tidak begitu besar, masih sangat kecil,” ujar Denny Tondano seperti dikutip Kompas.com. BP Batam juga membantah informasi adanya pasokan 160 liter per detik dari Waduk Duriangkang yang dialirkan khusus untuk data center.

Perangkat pendingin di atap sebuah data center
Perangkat pendingin di atap sebuah data center. Foto arsip sebagai ilustrasi sistem pendingin; bukan fasilitas di Batam. Foto: Rsparks3 / Wikimedia Commons (CC0)

Pulau yang bergantung pada hujan

Batam mengandalkan air hujan yang ditampung di enam waduk buatan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 1,3 juta penduduknya, menurut BBC yang dikutip Medcom.id. Kelompok lingkungan Akar Bhumi Indonesia memperkirakan Waduk Nongsa bisa mengering dalam sekitar satu bulan bila hujan tidak turun.

Di sisi lain, investasi data center di Batam disebut telah mencapai lebih dari USD6,7 miliar pada pertengahan 2026. Dari 10 proyek data center yang disetujui pemerintah setempat, enam berada di Nongsa Digital Park, dengan dua fasilitas sudah beroperasi dan satu sedang dibangun, menurut BBC yang dikutip Medcom.id. Kedekatan dengan Singapura dan konektivitas kabel bawah laut menjadi daya tariknya.

Kebijakan yang sedang disiapkan

BP Batam kini mewajibkan pengembang data center membangun dan mengoperasikan instalasi pengolahan air mandiri berbasis Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), yakni teknologi yang mengubah air laut menjadi air tawar, menurut Katadata yang mengutip Antara.

Langkah lain yang disiapkan BP Batam antara lain rencana Operasi Modifikasi Cuaca lewat BNPB bersama BMKG, pemasangan sistem pemantauan SCADA untuk mendeteksi kebocoran jaringan, penjajakan pasokan air dari Kabupaten Lingga dan Bintan, serta opsi waduk baru yang diperkirakan butuh lima hingga tujuh tahun, menurut Katadata.

Perspektif: aturan yang belum ada

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai belum ada regulasi khusus yang mengatur pembangunan dan operasional data center, termasuk kewajiban memenuhi kebutuhan air dan energi secara mandiri. Walhi mendesak moratorium pembangunan data center dan penyusunan regulasi khusus, menurut Mongabay.

“AI memang menjadi bagian dari perkembangan teknologi yang tidak bisa dihindari. Namun pembangunan infrastruktur AI tidak boleh mengorbankan hak masyarakat atas air dan lingkungan hidup yang sehat,” kata Pengampanye Urban Berkeadilan Walhi Eksekutif Nasional Wahyu Eka Setyawan dalam keterangan tertulis, seperti dikutip Mongabay Indonesia.

Yang belum diketahui

Yang belum diketahui: berapa volume air yang benar-benar dipakai setiap data center di Batam, kapan pasokan normal ke Kavling Sambau pulih, dan kapan instalasi SWRO para pengembang mulai beroperasi. Hubungan langsung antara data center dan krisis air warga juga belum terbukti; BP Batam dan ABH menyebut kemarau dan El Nino sebagai penyebab, sementara warga dan Walhi meminta tata kelola yang lebih ketat.

Metode dan foto arsip

Metode: naskah disusun dari pesan inti dan video AJ+ yang dikirim ke redaksi, lalu dilengkapi laporan Mongabay Indonesia, Kompas.com, Medcom.id yang mengutip BBC, Katadata yang mengutip Antara, dan ANTARA News. Angka produksi Waduk Nongsa berbeda antara keterangan ABH (30 dari normal 80 liter per detik) dan BP Batam (25 dari normal 90 liter per detik); keduanya ditulis dengan sumbernya. Jumlah data center yang beroperasi juga berbeda antara laporan BBC dan data BP Batam.

Tangkapan layar video yang dikirim ke redaksi tidak dipakai karena merupakan milik media lain. Foto dalam artikel adalah foto arsip berlisensi bebas dari Wikimedia Commons, bukan dokumentasi aksi warga atau kondisi terbaru.

Transparansi artikel

Jejak sumber

Artikel ini merupakan kompilasi bahan dari tim dan sumber terbuka, bukan liputan lapangan atau wawancara langsung redaksi di Batam.

Panel ini tidak menyatakan bahwa sumber telah diperiksa ulang hari ini. Baca pedoman editorial dan koreksi.

Sumber: Mongabay Indonesia, Kompas.com, Medcom.id (mengutip BBC), Katadata (Antara), ANTARA News, Video AJ+ di Instagram tentang warga dan data center di Indonesia (bahan dari tim).

Ada yang keliru di berita ini? Kirim koreksi ke redaksi. Kami memperbaiki dan mencatat setiap koreksi.

Baca juga