Madani Film Festival 2026 Bawa Tema Rimpang, Apa Hubungannya dengan Hidup Warga?
Festival 7–11 Oktober menghubungkan sinema, seni, dan komunitas. Gagasan Rimpang mengajak melihat hubungan yang tumbuh di antara warga.
Pilihan berbagi lainnya

JAKARTA — Apa hubungan sebuah festival film dengan cara warga hidup bersama di kota? Madani International Film Festival 2026 menawarkan jawabannya melalui tema Rimpang. Edisi kesembilan ini berlangsung pada 7–11 Oktober di Jakarta.
Dalam catatan kuratorial resmi yang diperiksa pada 8 Oktober, rimpang dipakai sebagai gambaran kehidupan yang tumbuh bercabang dan saling terhubung. Jakarta menjadi salah satu rujukan untuk membaca pertemuan ruang, manusia, dan gagasan tersebut.
Situs penyelenggara membagi arah festival ke dalam empat matra: Living Islam, Civilization, Civic, dan City. Jangkauannya meliputi keseharian masyarakat Muslim, pengetahuan serta kesenian, keterlibatan warga, dan kehidupan perkotaan.
Artinya, penonton diajak membaca film bersama konteks sosialnya. Bagi redaksi, gagasan ini menarik karena percakapan dapat berlanjut setelah layar padam: siapa yang diceritakan, pengalaman siapa yang jarang terlihat, dan bagaimana ruang budaya dapat dijangkau warga.
Itu merupakan cara membaca konsep festival, bukan bukti bahwa seluruh tujuan sosialnya sudah tercapai. Pengalaman peserta dan keberlanjutan kegiatan tetap diperlukan untuk menilai dampaknya.
Pembaca dapat menelusuri program melalui kanal resmi. Jadwal per sesi perlu diperiksa kembali karena beberapa bagian situs masih memuat pemberitahuan bahwa rincian sedang dipersiapkan.
Sumber & konteks
Disusun dari sumber publik tertaut; fakta dan agenda diperiksa 8 Oktober 2026. Rentang acara 7–11 Oktober 2026. Bukan liputan langsung. Foto arsip digunakan untuk konteks tempat, bukan suasana festival terkini. Adaptasi foto tetap memakai lisensi asal.




