Angka 350 Ribu Serangan Siber ke RI Viral, Benarkah Bank Sedang Digempur?

Tangkapan layar dasbor FortiGuard Labs yang mencatat sekitar 350.600 aktivitas serangan siber ke Indonesia, 214.000 di antaranya ke sektor keuangan, ramai dibagikan pada Sabtu (7/11/2026). Angka ini adalah percobaan serangan yang terpantau, bukan bukti sistem bank jebol. Hingga berita ini disusun, belum ada konfirmasi resmi BSSN atas angka itu.
Ceritanya
JAKARTA – Kata kunci “serangan siber bank” melonjak dalam pencarian warganet sejak Sabtu (7/11/2026). Pemicunya tangkapan layar dasbor FortiGuard Labs, unit riset keamanan milik perusahaan Fortinet, yang memperlihatkan sekitar 350.600 aktivitas serangan siber menyasar Indonesia.
Industry.co.id melaporkan, dari jumlah itu sekitar 214.000 aktivitas mengarah ke sektor perbankan, keuangan, dan asuransi. Sektor pemerintahan menerima sekitar 79.000 aktivitas, dan sisanya tersebar ke sektor lain. Kabar ini muncul bersamaan dengan gangguan dan serangan yang menimpa bank di Jepang, Malaysia, dan Prancis pada pekan yang sama.
Angka yang ramai dibagikan
- Total aktivitas serangan
- ±350.600
- Sektor keuangan
- ±214.000
- Sektor pemerintahan
- ±79.000
- Proyeksi kerugian siber 2026
- US$6,2 miliar (±Rp110 triliun)
Percobaan, bukan pembobolan
Hal pertama yang perlu dipahami: angka di dasbor semacam ini mencatat aktivitas atau percobaan serangan yang terdeteksi oleh sensor, misalnya pemindaian celah, upaya masuk berulang, atau lalu lintas mencurigakan. Industry.co.id menegaskan angka tersebut bukan bukti seluruh serangan berhasil menembus sistem.
Media yang sama juga mencatat belum ada pernyataan resmi dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) maupun Fortinet yang mengonfirmasi angka yang viral itu. Sebagai pembanding, BSSN sebelumnya mencatat miliaran anomali trafik dalam setahun. Artinya, ratusan ribu aktivitas dalam sehari bukan hal yang luar biasa bagi negara dengan pengguna internet sebesar Indonesia.
Apa yang terjadi di luar negeri
Kepanikan juga dipicu rentetan kabar dari luar negeri. CNBC Indonesia melaporkan 128 bank shinkin di Jepang barat menghentikan layanan ATM dan internet banking pada 6 November. Namun Shinkin Central Bank menyebut penyebabnya kegagalan komunikasi pada peralatan di West Japan Centre dan belum menemukan tanda serangan siber.
Di Malaysia, Menteri Komunikasi Fahmi Fadzil, seperti dikutip CNBC Indonesia dari Malaymail, mengatakan pemerintah mengidentifikasi upaya serangan siber oleh aktor non-negara, termasuk peretasan tampilan situs Bank Rakyat. Ia menegaskan tidak ada pencurian data maupun gangguan terhadap sistem perbankan daring. Sementara di Prancis, Credit Mutuel Arkea dilaporkan kehilangan lebih dari 100 juta euro akibat serangan, sebagian sudah dipulihkan.

Kenapa bank jadi sasaran favorit
Sektor keuangan memang target utama karena di sanalah uang dan data berharga berada. Pada Mei 2026, Deputi Komisioner OJK Deden Firman Hendarsyah menyebut Indonesia termasuk sepuluh besar negara sasaran anomali trafik menurut data BSSN. “Indonesia masuk ke dalam top ten target anomaly traffic,” katanya, seperti dikutip Metro TV.
Deden juga menyoroti kelemahan dari dalam, seperti sistem inti perbankan yang usang, standar keamanan yang tidak mutakhir, dan antivirus versi lama. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti pada September lalu menyebut kerugian akibat serangan siber di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar US$6,2 miliar pada 2026, menurut IDX Channel.
Apa kata publik
Di media sosial, reaksi warganet terbelah antara panik dan bercanda. Sebagian khawatir saldo mereka terancam, sebagian lain mengunggah ajakan mendoakan pegawai TI bank yang disebut sedang bekerja keras menjaga sistem. Kekhawatiran ini wajar, tetapi sejauh ini tidak ada bank di Indonesia yang mengumumkan gangguan layanan atau kebocoran data terkait gelombang serangan tersebut.
Yang perlu dilakukan nasabah
Risiko terbesar bagi nasabah biasanya bukan peretasan sistem bank, melainkan penipuan yang menyasar langsung pemilik rekening. Aktifkan autentikasi dua faktor, jangan pernah membagikan kode OTP, perbarui aplikasi mobile banking hanya dari toko aplikasi resmi, dan waspadai tautan atau berkas APK kiriman orang tak dikenal.
Bila menjadi korban penipuan, OJK bersama sejumlah lembaga telah membentuk Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) yang bertugas memblokir rekening penipu dan menyelamatkan dana korban. Laporan sebaiknya dibuat secepat mungkin setelah kejadian.
Metode dan foto arsip
Naskah disusun dari laporan Industry.co.id dan CNBC Indonesia (7 November 2026), IDX Channel (24 September 2026), dan Metro TV (13 Mei 2026). Angka 350.600 berasal dari dasbor FortiGuard Labs yang belum dikonfirmasi BSSN. Klaim lain yang beredar di media sosial tanpa sumber resmi tidak dimuat.
Foto adalah foto arsip berlisensi bebas dari Wikimedia Commons, bukan dokumentasi peristiwa terbaru.
Jejak sumber
Artikel ini merupakan kompilasi dari sumber terbuka yang disebutkan, bukan liputan lapangan atau wawancara langsung redaksi.
- Industry.co.id – 350.600 Aktivitas Serangan Siber ke Indonesia, Perbankan Sasaran Utama
- CNBC Indonesia – Bank Kena Gangguan Berjamaah, ATM hingga Internet Banking Lumpuh
- IDX Channel – Serangan Siber hingga Scam Ancam Ekosistem Keuangan, Potensi Kerugian Tembus Rp110,38 Triliun
- Metro TV – OJK Ungkap Indonesia Masuk Top 10 Target Serangan Siber, Ini Penyebabnya
- Wikimedia Commons – Bendera Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), lembaga pemantau keamanan siber nasional
- Wikimedia Commons – Gedung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 7 di Palembang
Panel ini tidak menyatakan bahwa sumber telah diperiksa ulang hari ini. Baca pedoman editorial dan koreksi.

